Rabu, 15 Desember 2010



Rappang.Com

TOMANURUNG PUANG PALIPADA

Sebagaimana dikatakan di atas bahwa ada beberapa Tomanurun didaerah Malepon Bulan Tanah Toraja dan Masserempulu tetapi yang akan disampaikan sejarahnya ialah Tomanurun Guru Lasellang Puang Palipada famili Tomanurun Batara Guru dari Luwu. Tomanurun Puang Palipada tiba di Palli posi tanah kampung Kaluppini Enrekang bersama istrinya Embong Bulan dari Malepon Bulan Tanah Toraja. Karena penduduk asli Kampung Kaluppini dan sekitarnya meminta kepada Tomanurun Puang Palipada tinggal memimpinnya maka dibangunkan rumah diatas bukit Palli Posi Tanah dikampung Kaluppini.

Dibekas tempat rumah Tomanurun Puang Palipada dibukit Palli sampai sekarang diabad XX Masehi, masih banyak rakyat datang disana melepas nazar dengan membawa kambing, ayam dan mappeyong disana. Dan memang orang-orang tua kita dahulu kala pada waktu tertentu mengadakan acara mappeyong disana memperingati Tomanurun Puang Palipada karena kepemimpinannya yang bersifat kerakyatan, kemanusiaan, dan adil, terutama menganjurkan rakyat menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mendatangkan bibit padi dan mengajar membuka tanah persawahan.

Selama Tomanurun Puang Palipada tinggal dikampung Kaluppini Enrekang melahirkan lima orang anak-anak masing-masing :

1. EMPAKKA MADEABATU PUANG CEMBA KARUENG ENREKANG. Wali pertama didaerah Masserempulu yang pertama-tama menyebar Agama Islam didaerah Masserempulu antara abad XII / XIII M. sekarang kuburannya di Buttu Tangnga Kota Enrekang yang sudah mendapat perawatan dari Pemerintah melalui P dan K. Diantara keturunannya diabad XVII s/d abad XX M. menjadi wali masing-masing :
1 . Muh. Said Pua Datte Kadhi Enrekang
2 . Sanggaiya Kadhi Enrekang
3 . Latanro III Puang Janggo Arung Buttu/Kadhi Enrekang
4 . Punga Tiwajo Puang Cipong Imam Kabere Enrekang

2. LA KAMUMMU tidak ada kuburannya karena belum masuk Islam menghilang seperti ayahnya Tomanurun Puang Palipada. Dia diberinama La Kamummu karena badannya berwarna Kamummu ( Ungu ), karena itu bendera kerajaan Enrekang berwarna ungu. Turunannya masing masing :

Takkebuku Taulan yang menurunkan :
1 . Arung Maiwa
2 . Sinapati dan
3 . We’ Cudai Dg. Risompa Datu Cina Punnae Tanete lampe Pammana Wajo isteri Sawerigading.

Puang Palindungan Paladang Maiwa yang menurunkan :
Tomaraju Arung Buttu Enrekang I Suami Puang Tianglangi Lando Rundun (Manggawari nama Islamnya) Arung Makale Tallu Lembangna keturunananTomanurun PuangTamboro Langi Tomatasak Malepon Bulan Tanah Toraja.

3. WE’ MONNO/SANGNGAN, di Luwu digelar Datu Sengngeng, merupakan Ibu Kandung Sawerigading dan We’ Tanriabeng ibu Simpurusiang datu Luwu ke III.

4. MARUDINDING LABOLONG PUANG TIMBANG RANGA kawin dengan Tomanurun dari Malepon Bulan Bulan Tanah Toraja menurunkan keturunan : Madika Ranga Enrekang.

5. DAJENG WANNA PUTE kawin dengan lelaki dari pegunungan Latimojong yang datang di Kaluppini menuggang kerbau besar dan tidak bisa dilihat kecuali dihamburkan 'wanno'. Mempunyai anak sepuluh orang, 8 delapan orang menjadi orang gaib menempati beberapa gunung di Sulawesi Selatan. Seorang tinggal bersama ibunya di kampung Kaluppini menjadi manusia biasa yang mempunyai keturunan di Kampung Kaluppini dan sekitarnya. Tulang-tulang dan Kepala Dajeng Wanna Pute ada di Gua di kampung Kaluppini.

Sejarah To Manurung

Menurut cerita orang tua kita dahulu mengatakan bahwa pada waktu dataran Pinrang dan Sidenreng Rappang masih lautan datanglah orang-orang naik perahu masuk kepedalaman melalui sungai Saddang langsung ke Tana Toraja dan sebahagian mendarat dikampung Papi mendaki kegunung Bambapuang, di kampung Kotu Enrekang membangun perkampungan, orang-orang inilah yang pertama datang di Masserempulu dan Malepon Bulan Tanah Toraja sebagai penduduk asli. Keterangan orang-orang tua kita ini adalah sesuai dengan pendapat ahli sejarah kita bahwa penduduk asli Sulawesi Selatan adalah orang-orang Annam, Dongson Indo Cina dan Mongolia yang datang melalui pulau Kalimantan pada kira-kira 1500 tahun sebelum masehi.

Penduduk asli di gunung Bambapuang ini tersebar ke Timur daerah Duri, ke Selatan daerah Maiwa Sidenreng, ke Barat daerah Pinrang dan Polmas ke Utara daerah Tana Toraja bertemu dengan penduduk asli disana yang naik perahu melalui sungai saddang. Penduduk asli di Bambapuang ini membangun Kampung Rura di sebelah timur gunung Bambapuang dan kampung Tinggallung di sebelah baratnya. Dan penduduk kampung Rura dan Tinggallung membangun kampung Papi, Kotu, Kaluppini, Bisang, Leoran, Tanete Carruk dan kampung-kampung didaerah Maiwa, Duri, Pinrang, Binuang, Tanah Toraja bagian selatan.

Beberapa ratus tahun kemudian datanglah beberapa Tomanurun didaerah Tana Toraja dan Masserempulu, antara lain Tomanurun Puang Tamboro Langi, To Matasak Malepon Bulan di Kandora Mengkendek Tallulembangna Tanah Toraja dengan istrinya Tomanurun Puang Sandabilik di Kairo Sangalla Tallulembangna Tanah Toraja. Tomanurun Wellangrilangi di gunung Bambapuang kampung Kotu Enrekang. Tomanurun Guru Sellang Puang Palipada dibuli Palli Posi Tanah kampung Kaluppini Enrekang yang berasal dari Luwu bersama istrinya Embong Bulan dari Malepon Bulan Tana Toraja.
Karena cara berfikir Tomanurun lebih maju daripada penduduk asli maka Tomanurun mengajar kepada penduduk asli adat istiadat dan membibing cara hidup yang lebih teratur sampai kepada kelompok penduduk asli dengan nama Pake mengangkat Tomanurun menjadi pimpinannya. Dimana Tomanurun menjalankan kepemimpinannya berdasarkan kerakyatan, kemanusiaan dan keadilan. Akan tetapi setelah keturunannya menjadi Pemimpin dengan istilah Raja/Datu/Karaeng/Puang/Arung dll.

Kita bersyukur karena pada abad XX. Masehi sekarang ternyata masih banyak keturunan Tomanurun di daerah kita yang masih berpegang kepada kepemimpinan Tomanurun ialah kemanusiaan, keadilan dan kerakyatan, karena terbukti didalam Revolusi 17 Agustus 1945 menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, banyak keturunan Tomanurun yang turut berjuang dan menjadi pemimpin sampai sekarang di segala bidang. Mereka ini masih memiliki kepribadian dan mempertahankan nilai-nilai leluhur ialah rasa kemanusiaan, rasa kekeluargaan, dan gotong royong atau tolong menolong terutama tetap memelihara hubungan keluarga atau famili.

Senin, 15 November 2010

Tanamkan "Sifat" Dalam Berbuat

Berbuat baik adalah satu bentuk ibadah sekaligus metode ampuh bagi transformasi diri. Kebanyakan perbuatan baik yang kita lakukan berwatak mementingkan diri; artinya dilakukan karena ada pamrihnya: uang, puja-puji atau popularitas. Bagi kaum Sufi, berbuat baik adalah berbuat baik “karena Allah,” tanpa sedikit pun memikirkan pamrih. Perbuatan baik jenis ini mengemuka bila kita ingat bahwa kita adalah bagian dari ciptaan Allah, juga bahwa dengan berbuat baik pada sesama ciptaan sesungguhnya kita berbuat baik bagi Pencipta kita bukan demi pahala, melainkan karena cinta dan syukur. Seorang Syaikh tua pernah berkata, “Bebuat baik tanpa cinta laksana mayat yang cantik. Dari luar begitu menawan, tapi tanpa nyawa.”

Perbuatan baik tidak mesti besar atau dramatis. Dahulu, ibu dari salah satu sultan Ottoman suka sekali beramal. Ia membangun banyak masjid, rumah sakit, dan memerintahkan penggalian sumur umum di bagian Istambul yang kering. Suatu hari, ia mengawasi pembangunan rumah sakit yang ia suruh bangun, di sana ia melihat seekor semut jatuh ke fondasi beton yang masih basah. Diangkatnya semut itu dari beton dan menaruhnya di tanah.
Beberapa tahun kemudian ia mangkat. Malam itu ia menyambangi sejumlah temannya dalam mimpi. Ia terlihat berseri-seri karena kebahagiaan dan kecantikan dalam. Teman-temannya bertanya apakah ia masuk surga karena kedermawanannya, ia menjawab, “Sekarang aku di Surga, bukan karena sedekah-sedekahku. Tetapi karena seekor semut.”

Kemurahan Hati

Jika segala sesuatu berasal dari Allah dan kembali kepada Allah, apakah Anda benar-benar memiliki sesuatu? Apa Anda bukan sekadar seorang pelayan, merawat bagian dunia ini, yang harus dilestarikan dan dilindungi, mungkin dibagi pada sesama?
Ada berbagai bentuk kemurahan hati. Umumnya kita sudah merasa bermurah hati ketika memberi sesuatu—uang, waktu, saran. Kita merasa kemurahan hati kita ada hasilnya saat kita diperhatikan, diberi ucapan terima kasih dan dipuji atas apa yang kita lakukan. Ini adalah tingkat kedermawanan yang paling gamblang. Pada hakikatnya, dalam kasus-kasus demikian, kita memberi dan mendapat imbalan. Transaksi serupa itu sejatinya merupakan pertukaran dan hanya memuat sedikit kemurahan hati yang sesungguhnya.


Jenjang kemurahan hati tertinggi adalah memberi secara diam-diam. Pemberi tetap beroleh manfaat, tetapi tidak secara langsung. Imbalan datang dalam wujud mengetahui bahwa kita bukan sekadar pemurah tetapi juga bajik karena tidak mengharapkan pengakuan atas pemberian kita. Meski demikian, pihak penerima tetap merasa berterima kasih, dan di dalam diri kita, kita meyakinkan diri, secara intuitif, bahwa kita memperoleh pahala.
Itu pun masih belum cukup, para Sufi mengenal tingkatan lainnya lagi—“sedekah rahasia.” Ini terjadi ketika Anda memberi dan orang lain mendapat manfaat dari perbuatan Anda, tetapi berbeda dengan kedua tingkatan tadi, orang tersebut tidak merasa merasa diberi, tidak pula merasa wajib berterima kasih. Bagaimana rasanya, umpamanya, jika Anda menemukan selembar satu dolar di trotoar? Anda menengok sekeliling dan memungutnya dengan senyuman mengembang di wajah. Anda merasa terberkati, atau sekurang-kurangnya merasa mujur. Anda tidak merasa bahwa ada seseorang “memberikannya pada Anda,” sebab Anda menemukannya. Yang terang, jika seseorang sengaja menaruh uang di jalan—kemudian pergi begitu saja tanpa memberi tahu siapapun sesungguhnyalah ia sedang mengamalkan bentuk sederhana dari sedekah rahasia.




Minggu, 14 November 2010

Suatu kali ada yang bertanya kepada seorang syaikh tentang cara mencapai Tuhan. “Jalan menuju Tuhan,” Syaikh itu menerangkan, “Sama banyak dengan jumlah makhluk ciptaan. Tapi ada jalan terpendek dan termudah, yaitu melayani sesama, tidak mengganggu orang lain, dan membuat mereka bahagia”.


Kearifan Hidup

Orang dari negeri Realitas berkata, “Suatu dosa yang dilakukan dengan cinta lebih bernilai ketimbang suatu ibadah tanpa cinta.” Sebab ibadah tanpa cinta tidak memperoleh ganjaran selain membuang-buang tenaga. Suatu dosa yang dilakukan dengan cinta tetap diancam siksaan tentu saja, tapi setidaknya perbuatan itu bisa dinikmati. Jadi, apapun yang kamu kerjakan, lakukanlah dengan cinta!